PENULIS : ABDOEL MOEIS
TAHUN : 2004
JUDUL : SALAH ASUHAN
PENERBIT : BALAI PUSTAKA,
JAKARTA
Kalau menyebutkan novel yang berjudul “SALAH ASUHAN” pasti sudah nggak
asing lagi, bukan. Iya, novel itu dikarang oleh Bapak Abdoel Moeis. Karena
kebanyakan pasti sudah tau atau sudah pernah membacanya, pastinya tulisan ini
bukan untuk memberi synopsis melainkan berbagi perspektif saja. Sebenarnya ngepost tulisan ini ada perasaan malu
juga karena hidup sudah berapa lama tapi baru baca novel ini. Menurutku, setidaknya
buku ini sudah di baca semasa SMP. Maklum minat banyak sama sekali tidak ada
pada masa itu dan sayangnya tidak pernah menjadi salah satu bahan belajar
(khususnya bahasa Indonesia) terkait dengan novel ini. Seperti penjelasan pada
KATA PENGANTAR di novel ini bahwa sudah dilakukan beberapa kali cetak ulang
karena memang novel ini sangat terkenal. Buku yang aku baca ini merupakan buku
pinjaman dari perpustakaan Daerah (syukurnya nemu…) yang mana merupakan cetakan
ke-33. Ngintip-ngintip tetangga katanya sudah ada cetakan yang ke-39 tahun
2009.
Pentingnya akan sastra Indonesia yang mendorong organisasi yang bernama
Yayasan Lontar untuk melindungi bahkan mempromosikan sampai kedunia
Internasional. Hal itu bukanlah tanpa dasar, karya-karya sastra Indonesia
banyak juga yang berkualitas tidak kalah dengan terbitan luar. Sebagai generasi
Indonesia, muncullah rasa keingintahuan terhadap karya-karya yang menjadi
sorotan Yayasan Lontar yang masuk pada seri Modern Library of Indonesia.
Semuanya masuk ke dalam READ LIST ku…
SALAH
ASUHAN KARYA ABDOEL MOEIS
Tokoh utama pada novel ini bernama Hanafi, seorang bumiputra (istilah
bagi keturunan asli Indonesia) asal Minangkabau. Memiliki pendidikan tinggi
dengan jerih payah ibunya.
Makna dari judul SALAH ASUHAN bukan hanya sekedar judul yang digunakan
untuk tujuan komersil novel ini, namun memang inti cerita ini tentang Salah
Asuhan. Hanafi diperjuangkan oleh ibunya agar memiliki pendidikan yang baik
agar mampu mengangkat martabat keluarga dan bisa bermanfaat bagi warga kampungnya.
Namun, apa yang diharapkan sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang
ada. Hanafi malah menganggap rendah asalnya dan lebih menjunjung bangsa Eropa.
Levelnya adalah bangsa eropa. Pola pikiran tersebut sampai pada siapa istri
yang paling sesuai bersamanya.
BAGIAN I : Part 1-10
Pada bagian ini diceritakan pertemanan, persaudaraan menjadi percintaan.
Hal itu terjadi pada Hanafi. Meskipun orang Bumiputra, Hanafi cukup percaya
diri untuk mendekati Corrie karena pendidikan Hanafi yang tinggi serta
pergaulan dan bekerja lebih banyak pada lingkungan orang-orang Belanda.
Kebimbangan dialami oleh Corrie yang merupakan peranakan Belanda dan Indonesia.
Banyak sebab yang menyebabkan hubungan Corrie dengan Hanafi tidak bisa lebih
dari pertemanan dan persahabatan. Kutipan dari perkataan Corrie yang kusukai,
yaitu
“kalah juga kiranya otak oleh
jantung!” (page 45)
Menghadapi kebimbangan yang berat, Corrie memilih untuk pergi ke Betawi.
Perpisahaan ini lah yang cukup mengubah hidup Hanafi yang merasa ditolak Corrie
yang dirasanya memiliki perasaan yang sama dengannya. Menghadapi kehampaan
hidup, Hanafi menuruti (bukan menerima ya) saran dari ibunya untuk menikah
dengan anak saudaranya, Rapiah. Tentunya tidak serta merta menerimanya namun
terjadi berdebatan antara ibu dan anak ini. Namun, yang membuat Hanafi tak
berkilah lagi bahwa kenyataan banyaknya utang uang maupun budi yang harus
dibalasnya.
Awal yang buruk selurus dengan kenyataannya, itulah ungkapan yang aku
berikan pada kehidupan yang dijalani Hanafi dan Rapiah. Karena keterpaksaan,
Hanafi tidak menerima sama sekali akan Rapiah meskipun hubungan mereka
menghasilkan bayi kecil bernama Syafei. Rapiah menjalani kehidupan rumah tangga
yang jauh dari kata Bahagia.
Sampai pada suatu hal, kesembuhan Hanafi setelah digigit anjing gila,
yang mengharuskan Hanafi pergi ke Betawi. Di sinilah pertemuan dan perpisahan
terjadi.
BAGIAN II: Part 11-20
Kepergian Hanafi ke Betawi membawa pada pertemuan kembali dengan Corrie.
Hubungan mereka hangat seolah tidak ada yang terjadi di masa lalu. Kuatnya
perasaan yang dimiliki terhadap Corrie, Hanafi memutuskan untuk menceraikan
Rapiah dan berpisah kepada ibunya. Bukan itu saja, Hanafi berpisah dengan
asal-muaslanya atau lebih tepatnya dia menjadi warga Belanda setelah menerima
penyamarataan.
Setelah penantian yang lama, akhirnya Hanafi menikah dengan Corrie.
Kehidupan pernikahan mereka banyak sekali mengalami cobaan. Besarnya gelombang
kehidupan yang menerpa pernikahan mereka mengakibatkan perpisahan Corrie dan
Hanafi.
BAGIAN III: Part 21-26 & penutup
Pertemuan Hanafi dengan Corrie pada bagian ini tiba setelah menunggu
untuk waktu yang tepat. Namun, Hanafi harus menerima takdir yang tidak berpihak
sepertinya pada dirinya. Hanafi mendapati Corrie dalam keadaan sekarat terkena
penyakit kolera. Hal itulah yang akhirnya memisahkan mereka selama-lamanya.
Dengan sepeninggalnya Corrie, hidup Hanafi sudah tidak berarti apa-apa.
Dia tiba-tiba sangat merindukan keluarganya yaitu Ibunya dan anaknya
(sepertinya Rapiah juga, itu menurutku). Hanafi tidak perduli apakah dia
diterima atau tidak oleh orang kampungnya. Setelah kembali ke Padang, tujuan
Hanafi hanyalah bertemu ibunya dan keluarga kecilnya. Pertemuan Hanafi dengan
anaknya dan Rapiah dicerita cukup singkat tapi berkesan (menurutku dan ini
menjadi bagian terfavoritku). Kenapa bagian ini menjadi bagian kesukaanku,
karena jujur bagian ini menggambarkan secara implicit bagaimana hati Rapiah
yang bagaikan emas meski sudah dihina, dicaci maki dan ditinggalkan oleh hanafi
tetapi cintanya tidak berubah.
“dimanakah ayahmu?”
“kata Ibu di Betawi, sedang
bersekolah.”
Hanafi termenung sejurus, lalu
bertanya dalam hatinya, apakah akan kata anak ini nanti jika diketahui, bahwa
ayahnya itu sudah tamat ‘bersekolah’ dan sedang berdiri di hadapannya? Maka
bertanya pulalah ia, “apakah ayahmu orang baik?”
“uah, sungguh-sungguh orang baik.
Kata ibuku, tidak adalah orang yang sebaik ayahku itu. jika ia dating ke mari,
tentulah ia akan member balon sebanyak itu pula kepadaku.”
“apakah ibumu acapkali
menyebut-nyebut ayahmu?”
“setiap hari kami memperkatakan hal
ayahku saja. Tapi kalau tak ada gaek, yaitu kalau kami berdua-dua saja.”
“bilakah ayahmu hendak pulang?”
“lama lagi. Kata ibu, bila sudah
tamat pelajaranya.”
Hanafi termenung pula. Benar sekali
kata Rapiah, ia sedang ‘belajar’, dan pelajaran itu pun sudahlah tamat. Tapi
alangkah besar korban yang keluar, setamatnya ‘bersekolah’ itu! (page 238)
…
“apakah ibumu tidak ingin hendak
berjumpa dengan ayahmu?”
“ingin sekali. Tiap hari
dituturkannya. Tapi ia takut pada gaek.” (page 239)
Meskipun besarnya penderitaan yang diberikan Hanafi kepada ibunya, pada
bagian akhir novel ini ibunya menerima dengan senang hati kembalinya Hanafi.
Namun, kebersamaan itu tidaklah terjalin pada rentang yang lama. Hanafi memilih
untuk mempercepat pertemuannya dengan Corrie.
Setuju banget kalau novel ini masuk Modern Library of Indonesia karena
emang High Quality banget. Novel ini
tidak hanya menyajikan romansa percintaan dan keluarga tapi setiap bagian
cerita mengandung nilai-nilai moral yang bagus banget.
1) Bagaimana
sikap terhadap keluarga
2) Bagaimana
kehidupan berumah tangga
3) Hidup tidak
selalu sesuai dengan yang diinginkan
4) Orang
dengan mudah memberikan penilaian baik/buruknya seseorang padahal tidak
mengetahui sebabnya.
5) Bahayanya
kesombongan
6) Indahnya
kesabaran
Ulasan singkat:
Menurutku salah satu masalah yang diangkat pada novel ini masih terjadi
sampai saat kini, bukan lagi melalui pola asuhan tapi melalui elektronik yang
saat ini benar-benar supercanggih. Banyak orang meniru gaya-gaya
kebarat-baratan dari cara berpakaian, tingkah laku dan bergaul. Tentunya ini
sangat jauh dari budaya Timur yang diajarkan nenek moyang kita. Banyak generasi
muda berkilah kalo gaya timur sudah ketinggalan zaman. Terima kasih atas waktu
yang diluangkan untuk membaca postingan ini. Semoga kita adalah generasi yang
mengambil hal-hal positif dari budaya lain tanpa lupa menjunjung budaya asli
kita, Budaya Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar