Sabtu, 23 Mei 2015

SALAH ASUHAN


PENULIS           : ABDOEL MOEIS
TAHUN             : 2004
JUDUL              : SALAH ASUHAN
PENERBIT        : BALAI PUSTAKA, JAKARTA

Kalau menyebutkan novel yang berjudul “SALAH ASUHAN” pasti sudah nggak asing lagi, bukan. Iya, novel itu dikarang oleh Bapak Abdoel Moeis. Karena kebanyakan pasti sudah tau atau sudah pernah membacanya, pastinya tulisan ini bukan untuk memberi synopsis melainkan berbagi perspektif saja. Sebenarnya ­ngepost tulisan ini ada perasaan malu juga karena hidup sudah berapa lama tapi baru baca novel ini. Menurutku, setidaknya buku ini sudah di baca semasa SMP. Maklum minat banyak sama sekali tidak ada pada masa itu dan sayangnya tidak pernah menjadi salah satu bahan belajar (khususnya bahasa Indonesia) terkait dengan novel ini. Seperti penjelasan pada KATA PENGANTAR di novel ini bahwa sudah dilakukan beberapa kali cetak ulang karena memang novel ini sangat terkenal. Buku yang aku baca ini merupakan buku pinjaman dari perpustakaan Daerah (syukurnya nemu…) yang mana merupakan cetakan ke-33. Ngintip-ngintip tetangga katanya sudah ada cetakan yang ke-39 tahun 2009.
Pentingnya akan sastra Indonesia yang mendorong organisasi yang bernama Yayasan Lontar untuk melindungi bahkan mempromosikan sampai kedunia Internasional. Hal itu bukanlah tanpa dasar, karya-karya sastra Indonesia banyak juga yang berkualitas tidak kalah dengan terbitan luar. Sebagai generasi Indonesia, muncullah rasa keingintahuan terhadap karya-karya yang menjadi sorotan Yayasan Lontar yang masuk pada seri Modern Library of Indonesia. Semuanya masuk ke dalam READ LIST ku…

SALAH ASUHAN KARYA ABDOEL MOEIS
Tokoh utama pada novel ini bernama Hanafi, seorang bumiputra (istilah bagi keturunan asli Indonesia) asal Minangkabau. Memiliki pendidikan tinggi dengan jerih payah ibunya.
Makna dari judul SALAH ASUHAN bukan hanya sekedar judul yang digunakan untuk tujuan komersil novel ini, namun memang inti cerita ini tentang Salah Asuhan. Hanafi diperjuangkan oleh ibunya agar memiliki pendidikan yang baik agar mampu mengangkat martabat keluarga dan bisa bermanfaat bagi warga kampungnya. Namun, apa yang diharapkan sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Hanafi malah menganggap rendah asalnya dan lebih menjunjung bangsa Eropa. Levelnya adalah bangsa eropa. Pola pikiran tersebut sampai pada siapa istri yang paling sesuai bersamanya.
BAGIAN I : Part 1-10
Pada bagian ini diceritakan pertemanan, persaudaraan menjadi percintaan. Hal itu terjadi pada Hanafi. Meskipun orang Bumiputra, Hanafi cukup percaya diri untuk mendekati Corrie karena pendidikan Hanafi yang tinggi serta pergaulan dan bekerja lebih banyak pada lingkungan orang-orang Belanda. Kebimbangan dialami oleh Corrie yang merupakan peranakan Belanda dan Indonesia. Banyak sebab yang menyebabkan hubungan Corrie dengan Hanafi tidak bisa lebih dari pertemanan dan persahabatan. Kutipan dari perkataan Corrie yang kusukai, yaitu
“kalah juga kiranya otak oleh jantung!” (page 45)
Menghadapi kebimbangan yang berat, Corrie memilih untuk pergi ke Betawi. Perpisahaan ini lah yang cukup mengubah hidup Hanafi yang merasa ditolak Corrie yang dirasanya memiliki perasaan yang sama dengannya. Menghadapi kehampaan hidup, Hanafi menuruti (bukan menerima ya) saran dari ibunya untuk menikah dengan anak saudaranya, Rapiah. Tentunya tidak serta merta menerimanya namun terjadi berdebatan antara ibu dan anak ini. Namun, yang membuat Hanafi tak berkilah lagi bahwa kenyataan banyaknya utang uang maupun budi yang harus dibalasnya.
Awal yang buruk selurus dengan kenyataannya, itulah ungkapan yang aku berikan pada kehidupan yang dijalani Hanafi dan Rapiah. Karena keterpaksaan, Hanafi tidak menerima sama sekali akan Rapiah meskipun hubungan mereka menghasilkan bayi kecil bernama Syafei. Rapiah menjalani kehidupan rumah tangga yang jauh dari kata Bahagia.
Sampai pada suatu hal, kesembuhan Hanafi setelah digigit anjing gila, yang mengharuskan Hanafi pergi ke Betawi. Di sinilah pertemuan dan perpisahan terjadi.

BAGIAN II: Part 11-20
Kepergian Hanafi ke Betawi membawa pada pertemuan kembali dengan Corrie. Hubungan mereka hangat seolah tidak ada yang terjadi di masa lalu. Kuatnya perasaan yang dimiliki terhadap Corrie, Hanafi memutuskan untuk menceraikan Rapiah dan berpisah kepada ibunya. Bukan itu saja, Hanafi berpisah dengan asal-muaslanya atau lebih tepatnya dia menjadi warga Belanda setelah menerima penyamarataan.
Setelah penantian yang lama, akhirnya Hanafi menikah dengan Corrie. Kehidupan pernikahan mereka banyak sekali mengalami cobaan. Besarnya gelombang kehidupan yang menerpa pernikahan mereka mengakibatkan perpisahan Corrie dan Hanafi.

BAGIAN III: Part 21-26 & penutup
Pertemuan Hanafi dengan Corrie pada bagian ini tiba setelah menunggu untuk waktu yang tepat. Namun, Hanafi harus menerima takdir yang tidak berpihak sepertinya pada dirinya. Hanafi mendapati Corrie dalam keadaan sekarat terkena penyakit kolera. Hal itulah yang akhirnya memisahkan mereka selama-lamanya.
Dengan sepeninggalnya Corrie, hidup Hanafi sudah tidak berarti apa-apa. Dia tiba-tiba sangat merindukan keluarganya yaitu Ibunya dan anaknya (sepertinya Rapiah juga, itu menurutku). Hanafi tidak perduli apakah dia diterima atau tidak oleh orang kampungnya. Setelah kembali ke Padang, tujuan Hanafi hanyalah bertemu ibunya dan keluarga kecilnya. Pertemuan Hanafi dengan anaknya dan Rapiah dicerita cukup singkat tapi berkesan (menurutku dan ini menjadi bagian terfavoritku). Kenapa bagian ini menjadi bagian kesukaanku, karena jujur bagian ini menggambarkan secara implicit bagaimana hati Rapiah yang bagaikan emas meski sudah dihina, dicaci maki dan ditinggalkan oleh hanafi tetapi cintanya tidak berubah.
dimanakah ayahmu?”
“kata Ibu di Betawi, sedang bersekolah.”
Hanafi termenung sejurus, lalu bertanya dalam hatinya, apakah akan kata anak ini nanti jika diketahui, bahwa ayahnya itu sudah tamat ‘bersekolah’ dan sedang berdiri di hadapannya? Maka bertanya pulalah ia, “apakah ayahmu orang baik?”
“uah, sungguh-sungguh orang baik. Kata ibuku, tidak adalah orang yang sebaik ayahku itu. jika ia dating ke mari, tentulah ia akan member balon sebanyak itu pula kepadaku.”
“apakah ibumu acapkali menyebut-nyebut ayahmu?”
“setiap hari kami memperkatakan hal ayahku saja. Tapi kalau tak ada gaek, yaitu kalau kami berdua-dua saja.”
“bilakah ayahmu hendak pulang?”
“lama lagi. Kata ibu, bila sudah tamat pelajaranya.”
Hanafi termenung pula. Benar sekali kata Rapiah, ia sedang ‘belajar’, dan pelajaran itu pun sudahlah tamat. Tapi alangkah besar korban yang keluar, setamatnya ‘bersekolah’ itu! (page 238)
“apakah ibumu tidak ingin hendak berjumpa dengan ayahmu?”
“ingin sekali. Tiap hari dituturkannya. Tapi ia takut pada gaek.” (page 239)

Meskipun besarnya penderitaan yang diberikan Hanafi kepada ibunya, pada bagian akhir novel ini ibunya menerima dengan senang hati kembalinya Hanafi. Namun, kebersamaan itu tidaklah terjalin pada rentang yang lama. Hanafi memilih untuk mempercepat pertemuannya dengan Corrie.

Setuju banget kalau novel ini masuk Modern Library of Indonesia karena emang High Quality banget. Novel ini tidak hanya menyajikan romansa percintaan dan keluarga tapi setiap bagian cerita mengandung nilai-nilai moral yang bagus banget.
1)      Bagaimana sikap terhadap keluarga
2)      Bagaimana kehidupan berumah tangga
3)      Hidup tidak selalu sesuai dengan yang diinginkan
4)      Orang dengan mudah memberikan penilaian baik/buruknya seseorang padahal tidak mengetahui sebabnya.
5)      Bahayanya kesombongan
6)      Indahnya kesabaran

Ulasan singkat:
Menurutku salah satu masalah yang diangkat pada novel ini masih terjadi sampai saat kini, bukan lagi melalui pola asuhan tapi melalui elektronik yang saat ini benar-benar supercanggih. Banyak orang meniru gaya-gaya kebarat-baratan dari cara berpakaian, tingkah laku dan bergaul. Tentunya ini sangat jauh dari budaya Timur yang diajarkan nenek moyang kita. Banyak generasi muda berkilah kalo gaya timur sudah ketinggalan zaman. Terima kasih atas waktu yang diluangkan untuk membaca postingan ini. Semoga kita adalah generasi yang mengambil hal-hal positif dari budaya lain tanpa lupa menjunjung budaya asli kita, Budaya Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar