Judul : Princess DisGrace: Tahun
Pertama di Akademi Menara Tinggi
(Princess DisGrace: First Term at Tall
Towers)
Penulis : Lou Kuenzler
Penerbit : Scholastic Ltd. (versi asli) dan
Tiga Serangkai (versi terjemahan)
Kategori : Fiksi Anak
Halaman : 248 halaman
Sinopsis :
Terlahir
menjadi seorang putri merupakan dambaan semua wanita, namun dibalik itu semua
banyak tuntutan yang harus dipenuhi agar menjadi putri sejati. Berbicara baik
dan lembut, berjalan tegak serta berpakaian indah merupakan beberapa syarat
yang harus dipenuhi. Tetapi bagaimana hal-hal tersebut tidak terdapat pada
seorang putri- Putri Grace. Tumbuh tanpa didampingi ibu, Grace menerima didikan
sang ayah yang berdampak pada sikap Grace. Banyak kecerobohan yang dilakukan
Grace. Sehingga dia bukanlah putri Grace – Anggun -, tetapi lebih tepatnya
putri DisGrace – Canggung – seperti
yang dikatakan oleh sepupunya sendiri Putri Precious. Namun Grace bertekad
untuk menjadi putri sejati.
Novel ini
menceritakan bagaimana perjuangan Grace pada tahun pertama di akademi menara
tinggi. Menghadapi hujatan atas sikapnya yang ceroboh, bertemu dengan ibu Peri
yang menakutkan sampai mendapat sahabat.
What I like:
- Sampulnya
Menarik
Jujur kalo dikata orang Don’t
judge book by the cover (Sorry kalo salah), but I’m the One who judge book by the cover. Sampulnya pinkish pas
dengan my favorite colour dan
gambarnya lucu. Alasan beli ini novel emang liat dari covernya, saat liat di
rak buku langsung comot ajah tanpa pikir panjang. Dalam hati “Judulnya Princess DisGrace, pasti ceritanya
ala-ala putri gitu. Kudu beli nih, kali aja bisa jadi Princess ala-ala Miss
Universe atau Miss World (GUHA- Guyonan Hati)”.
- Gambar/
ilustrasinya bagus.
Ofcourse this
is fiksi anak, makanya
selain verbal, visual kita juga dimanjakan oleh gambar atau ilustrasi yang
lutu-lutu. Suka hela nafas kalo liat novel yang nggak ada gambarnya dan suka
jingkrak-jingkrak kalo ada novel disertai gambar/ilustrasinya.
- Alur cerita
Menarik- READ MODE: SKIP OFF
Inikan salah satu komponen terpenting pada sebuah cerita.
Pembaca dipandu pada sebuah cerita dari awal sampai akhir melalui alur. Pernah
baca novel belum sampai akhir tapi udah nyerah? Lari esktapet langsung sampai
ending karena nggak tahan sama ceritanya langsung liat endingnya? Aku pernah
ngalamin ini, my reason is bukan dari
tebal atau tipisnya novel melainkan alurnya. Kalo kata orang yang jatuh cinta
“YANG BIKIN PENASARAN”. Kalo aku nggak dapetin “PENASARAN” itu, READ MODE: SKIP
ON. Untungnya hal itu tidak terjadi pada Novel ini, ceritanya ringan (mungkin karena ini novel anak dan yang ngebaca
hampir expired masa anak-anaknya) dan rasa “PENASARAN”nya dapetlah.
- Karakter
Tokoh-Tokoh Kuat
Kalo cerita tanpa lakon apa dong namanya?
Untuk karakter pada tokoh-tokoh cerita ini cukup digambarkan
dengan jelas, mana yang baik dan juga jahat. Ada ibu peri yang menakutkan atau
lebih tepatnya perfeksionis (sebenarnya itu sebuah panggilan untuk pengajar di
Menara Tinggi bukan ibu peri yang bisa ulala- sambil mengayunkan tongkat -),
pengajar unikorn, ibu peri penjahit busana dan Putri-Putri dari penjuru dunia
lainnya. Prince?? You ask about Prince??? Hiks… ini cerita anak bukan cerita
novel romantis remaja atau dewasa. Nggak ada cerita ala-ala pangeran bertemu
dengan putri yang falling in love in
first sight, hate become love, perjodohan
atau lainnya. Tapi cukup menggembirakan karena di sini ada ksatria yang
nantinya akan melakukan turnamen di mana Menara Tinggi sebagai tuan rumah pada
turnamen tersebut. Cukup memberi angin segar!
- Pesan Moral
1)
Berdiri
membela kebenaran adalah keberanian yang paling utama.
2)
Melakukan
kebaikan adalah kemuliaan sesungguhnya.
PERHATIAN!!!
Tujuan
tulisan-tulisan ini bukan iklan atau kritikan yang menjatuhkan. Hanya ingin
berbagi pengalaman membaca dan penilaian sebagai Crazy Reader.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar