Sabtu, 18 April 2015

RESENSI: PRINCESS DISGRACE


Judul          : Princess DisGrace: Tahun Pertama di Akademi Menara Tinggi
                      (Princess DisGrace: First Term at Tall Towers)
Penulis       : Lou Kuenzler
Penerbit     : Scholastic Ltd. (versi asli) dan Tiga Serangkai (versi terjemahan)
Kategori     : Fiksi Anak
Halaman    : 248 halaman

Sinopsis           :
Terlahir menjadi seorang putri merupakan dambaan semua wanita, namun dibalik itu semua banyak tuntutan yang harus dipenuhi agar menjadi putri sejati. Berbicara baik dan lembut, berjalan tegak serta berpakaian indah merupakan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Tetapi bagaimana hal-hal tersebut tidak terdapat pada seorang putri- Putri Grace. Tumbuh tanpa didampingi ibu, Grace menerima didikan sang ayah yang berdampak pada sikap Grace. Banyak kecerobohan yang dilakukan Grace. Sehingga dia bukanlah putri Grace – Anggun -, tetapi lebih tepatnya putri DisGrace – Canggung – seperti yang dikatakan oleh sepupunya sendiri Putri Precious. Namun Grace bertekad untuk menjadi putri sejati.
Novel ini menceritakan bagaimana perjuangan Grace pada tahun pertama di akademi menara tinggi. Menghadapi hujatan atas sikapnya yang ceroboh, bertemu dengan ibu Peri yang menakutkan sampai mendapat sahabat. 

What I like:
-       Sampulnya Menarik
Jujur kalo dikata orang Don’t judge book by the cover (Sorry kalo salah), but I’m the One who judge book by the cover. Sampulnya pinkish pas dengan my favorite colour dan gambarnya lucu. Alasan beli ini novel emang liat dari covernya, saat liat di rak buku langsung comot ajah tanpa pikir panjang. Dalam hati “Judulnya Princess DisGrace, pasti ceritanya ala-ala putri gitu. Kudu beli nih, kali aja bisa jadi Princess ala-ala Miss Universe atau Miss World (GUHA- Guyonan Hati)”.
-       Gambar/ ilustrasinya bagus.
Ofcourse this is fiksi anak, makanya selain verbal, visual kita juga dimanjakan oleh gambar atau ilustrasi yang lutu-lutu. Suka hela nafas kalo liat novel yang nggak ada gambarnya dan suka jingkrak-jingkrak kalo ada novel disertai gambar/ilustrasinya.
-       Alur cerita Menarik- READ MODE: SKIP OFF
Inikan salah satu komponen terpenting pada sebuah cerita. Pembaca dipandu pada sebuah cerita dari awal sampai akhir melalui alur. Pernah baca novel belum sampai akhir tapi udah nyerah? Lari esktapet langsung sampai ending karena nggak tahan sama ceritanya langsung liat endingnya? Aku pernah ngalamin ini, my reason is bukan dari tebal atau tipisnya novel melainkan alurnya. Kalo kata orang yang jatuh cinta “YANG BIKIN PENASARAN”. Kalo aku nggak dapetin “PENASARAN” itu, READ MODE: SKIP ON. Untungnya hal itu tidak terjadi pada Novel ini, ceritanya ringan (mungkin karena ini novel anak dan yang ngebaca hampir expired masa anak-anaknya) dan rasa “PENASARAN”nya dapetlah.
-       Karakter Tokoh-Tokoh Kuat
Kalo cerita tanpa lakon apa dong namanya?
Untuk karakter pada tokoh-tokoh cerita ini cukup digambarkan dengan jelas, mana yang baik dan juga jahat. Ada ibu peri yang menakutkan atau lebih tepatnya perfeksionis (sebenarnya itu sebuah panggilan untuk pengajar di Menara Tinggi bukan ibu peri yang bisa ulala- sambil mengayunkan tongkat -), pengajar unikorn, ibu peri penjahit busana dan Putri-Putri dari penjuru dunia lainnya. Prince?? You ask about Prince??? Hiks… ini cerita anak bukan cerita novel romantis remaja atau dewasa. Nggak ada cerita ala-ala pangeran bertemu dengan putri yang falling in love in first sight, hate become love, perjodohan atau lainnya. Tapi cukup menggembirakan karena di sini ada ksatria yang nantinya akan melakukan turnamen di mana Menara Tinggi sebagai tuan rumah pada turnamen tersebut. Cukup memberi angin segar!
-       Pesan Moral
1)      Berdiri membela kebenaran adalah keberanian yang paling utama.
2)      Melakukan kebaikan adalah kemuliaan sesungguhnya.


PERHATIAN!!!
          Tujuan tulisan-tulisan ini bukan iklan atau kritikan yang menjatuhkan. Hanya ingin berbagi pengalaman membaca dan penilaian sebagai Crazy Reader.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar